Senin, 05 Maret 2018

Ide-ide yang hilang



Sepulang dari kerjaan kemarin. Saya effort banget mau nulis konten di blog. Pasalnya, semua catatan saya yang ada di Google Keep tiba-tiba hilang semua. Saya ga tau persis, kayaknya itu kehapus karena kemarin habis bebersih memori pake apps Cleaner gitu. Padahal, semua ide-ide tulisan dan konten podcast, ada di situ semua.

Satu-dua ide masih keinget. Cuma emang ga fokus aja jadinya kemarin ga ngemuat tulisan apa-apa di blog ini. Ya sudah. Saya bakal tebus hari ini aja. Hehe..

Waktu saya lagi mikir-mikir apa topik yang ingin dibahas. Saya cukup lama duduk kayak lagi merenung gitu, buat nyari-nyari topiknya. Selang sepuluh menitan, saya nemu idenya, saya tulis. Ehh di tengah tulisan saya ngerasa ngeganjal, ulasannya menggantung gitu. Yaudah, cari ide lain dulu, tulisan yang ini disimpen. Terus lanjut merenung lagi, 😅. Kayak gitu terus sampai tiga kali.

Akhirnya, saya putuskan untuk, yaudah ga usah nulis dulu, ribet. Haha, segitu usahanya saya buat bikin konten di blog ya.

Di momen 'pencarian ide' itu, saya-pun menyadari (#lha?, bahasanya serius amat). bahwa menjadi penulis itu harusnya mengulas sebuah kejujuran. Penulis itu selalu punya keresahan yang ingin dituang. Ada semacam keributan yang berkutat di otaknya yang terpaksa harus dikeluarkan.

Sayangnya. Kadang, di kita suka memaklumi tiap keresahan yang muncul di otak kita. Semakin mendewasa, kita semakin menganggap sepele apa yang sebenarnya menjadi pertanyaan-pertanyaan. Kita tidak mau ribet memenuhi kebutuhan penasaran yang ada di otak kita. Akhirnya, kita mendiamkan dan memaklumi saja.

Maksudnya begini. Waktu kita kecil, kita kan sering bertanya banyak hal. Dan pertanyaan itu suka kita tanyakan langsung ke orang tua kita atau siapapun orang dewasa yang ada di sekitar kita. Semua hal. Apa yang bikin kita penasaran, kita suka sekali bertanya. Iya kan?

Nah, gempuran penasaran itu, semakin kita dewasa, semakin melemah. Akhirnya, kita tidak pernah lagi menggali dalam-dalam keresahan-keresahan kita. Endingnya, kita bakalan jadi orang yang pemalas dan menerima serta memaklumi apa-apa yang harusnya bisa diubah.

Saya berikan contoh sederhana. Dulu, ada orang yang bertanya setiap pagi kenapa ia harus mematikan lampu. Padahal, jawabannya sangat mudah, karena hari sudah siang dan terang, lampu tidak perlu lagi dihidupkan.

Nah, si orang ini tidak puas. Ia ingin, setiap pagi tidak perlu mematikan lampu. Maka, singkat cerita, munculah ide, bikin lampu sensor, lampu yang bisa mati saat pagi sudah datang. Lampu yang otomatis mati, ketika sudah terang.

Kenapa? Ternyata, orang ini tidak ingin cepat-cepat memaklumi kejadian yang sudah berulang. Ia mencoba mengubah apa-apa yang menjadi keresahannya.

Back to the topic. Kita pasti punya kepekaan atau sense itu. Di saat kita ngeliat apa-apa yang ada di keliling kita. Bisa jadi ada pertanyaan yang mengendap. Sayangnya, kita gak mencatatnya menjadi sebuah calon ide. Kita-pun tidak pernah mem-follow-up-i itu. Kita mendiamkannya, dan membiarkan dunia menjawabnya dengan sendirinya.

Padahal, semua ide-ide jenius itu muncul dari keresahan. So.. kalo kamu punya keresahan yang mengendap, keluarin, dan catat. Follow-up-i menjadi sebuah topik ide.

Saya paling sering mendapati ide itu ketika berkendara. dan biasanya, saya akan menghentikan laju motor, untuk mencatat ide yang muncul itu di note. Jaga-jaga, agar nanti tidak terlupa.

Btw, kamu pernah mikir gak, kenapa semua penjual pecel Lele punya spanduk yang satu nada seperti itu? Bisa tuh, digali 😅

Share:

0 komentar:

Posting Komentar