Minggu, 08 April 2018

Untuk Istriku - 1


Dek, pagi ini, aku sedang menikmati kesendirian di ruangan kantor yang begitu sunyi. Detak jam daritadi tidak pernah hening, terdengar lebih keras dari biasanya. Rekan-rekan se-kantor sedang bertugas di luar. Aku hanya sendiri menatap layar laptop dan menulis ini.
  
Dek, tulisan ini kutulis untuk-mu. Aku tidak tahu, tentang kapan kamu akan membacanya. Yang jelas, kelak. Saat pertemuan kita terselenggara, aku akan kirimkan alamat blog ini untuk-mu. Agar kamu bisa membacanya sebagai kisah tentang penantian-ku untukmu.

Dek, kamu apa kabar di sana? Semoga masih kuat bersabar menantikan momen pertemuan kita. Aku juga tidak tahu soal waktu. Yang ku-tahu, pertemuan kita sudah terjadwal-kan. Rapi tertulis di lauhul mahfudz, sebuah buku takdir yang lengkap dengan skenario terbaik-Nya.

Kita harus percaya, dek. Tugas kita percaya. Di saat-saat menjelang masa temu tersebut, kita sedang saling menyiapkan dan memantaskan diri. Untuk bisa salilng memiliki satu sama lain. Kita harus meyakini tentang takdir Tuhan.

Dek, kamu tidak perlu risau dan bimbang. Tentang apakah kita akan dipertemukan Tuhan atau tidak. Yang pasti, jika-pun temu kita tak kunjung terselenggara di dunia, semoga surga adalah tempat kita menagih hak kita untuk bisa bersua.

Aku tak tahu. Kamu sedang dimana dan sedang melakukan apa. Yang kutahu, di sini, aku sedang menata diri agar bisa mendampingi-mu kelak. Kata Tuhan, yang baik akan dipertemukan dengan yang baik. Maka, dengan terus belajar menjadi manusia baik, aku berharap, itu menjadi bahan negosiasi-ku bersama Tuhan, agar kita segera layak untuk di-sandingkan.

Dek, empat hari yang lalu. Menjelang dini hari. Seorang kakak menghubungi-ku melalui pesan whatsapp, katanya, ada seorang perempuan yang siap menikah. Dia ingin memulai komunikasi denganku, kita sebut saja prosesi ta’aruf. Aku tidak ingin tahu siapa orang-nya. Karena, hari itu, dan sampai hari ini, aku belum siap menikah. Aku hanya menjawab, bahwa aku belum siap untuk menikah. Percakapan itu-pun usai.

Dek, aku memang lelaki yang lemah. Tidak punya mental pemberani. Penakut. Entahlah. Yang pasti, ke-belum-siap-an-ku itu bukan tidak berdasar. Bagiku, menikah adalah pertaruhan yang besar. Menjemput sebuah amanah dan tanggung jawab yang harus siap diemban. Ini bukan soal usia dan ke-dewasa-an saja. Ia lengkap dengan mental dan yang lebih penting dari itu, ia adalah sebuah panggilan. Panggilan takdir dari Tuhan yang maha kuasa.

Dek, aku tak tahu. Apakah perempuan itu kamu? Yang jelas. Aku tidak sedang ingin me-nunda-nunda. Bukan soal menikmati durasi kesendirian. Namun, aku merasa, hari ini, panggilan itu memang belum kunjung datang.

Dek, usai percakapan itu. Ada seorang teman yang menelvon-ku esoknya. Katanya, ada seorang Ustadzah yang ingin meminta kontak yang bisa dihubungi sebagai perantara. Ada perempuan yang juga siap untuk menikah. Jawabanku sama, dek. Aku belum siap.

Dek, dimanapun kamu kini. Semoga Tuhan selalu memberkahi tiap langkah kita. Aku percaya, sejauh apapun ku menjauh. Sang jodoh pasti-kan dipertemukan. Kamu-pun begitu dek. Tidak perlu risau dan gelisah. Sangat mudah bagi Tuhan hanya sekadar mempertemukan kita. Hanya saja, barangkali memang belum waktunya, tugas kita bersabar dan terus belajar. Belajar menjadi manusia baik di tiap hari-hari kita.

Salam Rindu, dari Calon Suami-mu

9 April 2018

Share:

Selasa, 03 April 2018

Candu baca tulisan di Kompasiana dan Medium


Belakangan, saya mulai mencandui Kompasiana dan Medium Apps. Platform ini seperti berkumpulnya para penulis keren dan sedang berkonspirasi menggiring saya untuk terus membaca dan membaca tulisan mereka. Ada banyak perspektif yang diulas. Hal-hal yang selama ini barangkali menurut kita sepele, bisa disuguhkan menjadi opini yang bernutrisi.

Pada tab halaman awal Chrome komputer saya, sudah bertengger dua situs keren ini, Kompasiana dan Medium, siap di-klik sebagai bentuk sapaan si PC ke saya di tiap pagi kantor. Pun ketika menggenggam si gadget, jari saya sering otomatis membuka apps Medium tanpa aba-aba.

Sayangnya, terkadang sang waktu tidak begitu akrab dengan mereka. Tulisan keren selalu bermunculan di saat ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Biasanya, sebelum menunda membaca opini subjektif di dua platform ini, saya membuka tab-tab hingga belasan tab, agar jika nanti ada luang curi-curi waktu, saya bisa baca tab demi tab yang sudah dibuka yang berisi tulisan-tulisan yang sudah rapih terhidang. Dan khusus di aplikasi Medium, ada fitur penanda (bookmark) agar bisa ditandai sebagai tulisan yang akan dibaca di lain waktu. Sebuah kemudahan di era digital seolah mereka tahu persis, bahwa pembaca terkadang harus menunda untuk baca-baca karena satu dan lain hal.

Sampai pada durasi membaca-pun di apps Medium bisa tahu, Medium menganalisa berapa panjang tulisan dan menyimpulkan berapa lama durasi artikel itu dibaca dalam kecepatan normanl, sehingga sebelum kita memulai mengeja-eja tulisan sampai habis, kita bisa meramalkan, dengan waktu yang tertera apakah kita cukup waktu untuk membaca tulisan ini, atau kita tunda saja dan menunggu waktu-waktu santai tiba, agar kita tidak terputus-putus jika sudah memulai membacanya.

Soal konten kekinian, saya lebih suka Kompasiana. Ada banyak penulis-penulis yang sangat lihai menemukan celah perspektif. Apa yang menurut kita sepele bisa diulas menjadi vitamin otak alias nutrisi. Apa yang jarang kita memikirkan hal itu, ada aja penulis yang mengulasnya. Suasana seperti ini, sebagai bukti, bahwa tentang literasi di negeri ini, masih ada banyak harapan jika kita ingin berbicara perkembangan dan kemajuan.

Bersambung..

Share: