Rabu, 01 Agustus 2018

Tipe Calon Istri Idaman

Pixabay 


Suatu hari. Seorang kawan bertanya pada saya, tentang tipe calon istri yang diidamkan. Sekelebat saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang tampak sederhana itu. Entahlah. Saya memang tidak pernah memikirkannya sebelumnya.

Sampai kemudian, seorang kawan lain yang sudah menikah menceritakan pengalamannya bertemu sang istri. Ternyata tipe dan ekspektasi calon istri cukup penting untuk dijawab agar bisa dipertemukan dan menemukan kecocokan di fase perkenalan.

Saya coba merenung sejenak. Detik demi detik, menit demi menit. Saya dibuat termenung untuk menjawab pertanyaan sulit itu. Hingga menemukan satu jawaban klise ; "Satu saja kriterianya, dia mau menerima saya yang punya daftar kekurangan jauh lebih banyak ini, dan bahkan nyaris tidak punya sesuatu yang bisa diunggulkan". Haha. Si kawan tertawa. Dan saya bingung.

Kalau dipikir-pikir. Saya tentu tidak punya hak untuk neko-neko memilih calon pasangan. Saya sadar betul, dengan identitas ke-tidak-sholeh-an yang melekat dalam diri saya, rasanya terlalu ujub jika ingin menuliskan daftar syarat calon istri versi saya.

Minder? Memang.

Entahlah. Dalam ke-tidak-percaya-diri-an yang semakin bertumbuh ini. Saya hanya berharap. Saya tetap ingin bernegosiasi dengan Tuhan. Semoga Tuhan berkenan memberikan pasangan yang sholehah. Meski tidak sebanding dengan kesholehan yang saya punya.

Aamiin..





Wait. Wait. Wait.

Saya tetiba teringat sebuah kaidah. Bahwa ternyata. Sesuai ajaran keimanan. Ternyata jodoh kita siapa, sudah tertulis rapih di kitab lauhul mahfudz. Kita akan dipertemukan dengan dia di waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Iya kan?

Lalu? Buat apa pertanyaan di atas perlu dijawab? Apa pentingnya membuat daftar tipe calon istri idaman versi kita? Bukankah orangnya sudah ditentukan bahkan sebelum kita lahir ke dunia ini?.

Hmm.. Saya coba menjawab dengan subjektif. Jangan jangan itu sebagai pattern. Dengan kaidah, bahwa pasangan kita akan sesuai dengan kita. Maka, daftar tipe calon istri idaman itu sebentuk pola perbaikan diri yang harus kita bentuk.

Simpelnya. Ketika kita mengharapkan seorang istri yang suka membaca al qur'an, harusnya kita lebih dulu membiasakan diri untuk akrab dengan quran. Begitupun sebaliknya.

Klisenya. Jodoh itu cerminan dari diri kita. Sebaik kita, sebaik dia. Gitu..

Maka, upaya penjemputan jodoh itu, ada baiknya diiringi dengan usaha terus, usaha memperbaiki ibadah, usaha menjaga silaturahim, dan usaha usaha lainnya yang menyesuakan dengan ekspektasi istrik kita di masa depan. Azzeekk..

Oke cukup. Semakin diteruskan, tulisan ini akan semakin "ngawur".

Terima kasih sudah berkenan membaca..

Sampai ketemu lagi di post selanjutnya. Selamat rehat.
Share:

1 komentar: